17
Des
09

TEORI BELAJAR

Teori-Teori Belajar

Diterbitkan 2 Februari 2008 psikologi pendidikan 129 Comments
Tags: artikel, berita, KTSP, makalah, opini, pendidikan, umum

oleh : Akhmad Sudrajat

Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori behaviorisme; (B) teori belajar kognitif menurut Piaget; (C) teori pemrosesan informasi dari Gagne, dan (D) teori belajar gestalt.

A. Teori Behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :

1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.

Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.

Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner

Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :

Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4. Social Learning menurut Albert Bandura

Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.

Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

B. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

C. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

D. Teori Belajar Gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.

Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.

Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.

Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.

Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan

Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:

Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.

Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).

Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.

Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :

Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.

Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.

Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.

Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.

Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

Teori Belajar

Posted by: admin, in Pendidikan

Beberapa teori belajar yang akan di bahas antara lain :
Teori belajar Skinner “Operant Conditioning”
Teori Belajar Conditining of Learning, Robert M. Gagne
Teori Belajar Perkekmembangan Kognitif Jean Piaget
Teori Belajar Sosial Albert Bandura
Teori Belajar Orang Dewasa
Teori Pembelajaran Orang Dewasa

a) Teori Operant Conditioning
Teori operant conditioning dimulai pada tahun 1930-an. Burhus Fredik Skinner selama periode teori stimulus (S)- Respons ( R) untuk menyempurnakan teorinya Ivan Pavlo yang disebut “Classical Conditioning”. Skinner setuju dengan konsepnya John Watson bahwa psikologi akan diterima sebagai sain (science) bila studi tingkah laku (behavior) tersebut dapat diukur, seperti ilmu fisika, teknik, dan sebagainya.
Menurut Skinner , belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Hasil temuan skinner terdapat tiga komponen dalam belajar yaitu :
Discriminative stimulus (SD)
Response
Reinforcement (penguatan)
- penguatan positif
- penguatan negative
b) Teori Conditioning Of Learning, Robert M. Gagne
Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Menurut Gagne belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang komulatif (gagne, 1968). Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa belajar itu bukan proses tunggal. Belajar menurut Gagne tidak dapat didefinisikan dengan mudah, karena belajar bersifat kompleks.
Gagne (1972) mendefinisikan belajar adalah : mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Kompetensi itu meliputi, skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan oleh manusia, sehingga belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang selanjutnya disebut kapasitas atau outcome. Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh pembelajar (peserta didik) dari :
1. Stimulus dan lingkungan
2. proses kognitif
Menurut Gagne belajar dapat dikategorikan sebagai berikut :
1) Verbal information (informasi verbal)
2) Intellectual Skill (skil Intelektual)
3) Attitude (perilaku)
4) Cognitive strategi (strategi kognitif)

Belajar informasi verbal merupakan kemampuan yang dinyatakan , seperti membuat label, menyusun fakta-fakta, dan menjelaskan. Kemampuan / unjuk kerja dari hasil belajar, seperti membuat pernyataan, penyusunan frase, atau melaporkan informasi.
Kemampuan skil intelektual adalah kemampuan pembelajar yang dapat menunjukkan kompetensinya sebagai anggota masyarakat seperti; menganalisa berita-berita. Membuat keseimbangan keuangan, menggunakan bahasa untuk mengungkapkan konsep, menggunakan rumus-rumus matematika. Dengan kata lain ia tahu “ Knowing how”
Attitude (perilaku) merupakan kemampuan yang mempengaruhi pilihan pembelajar (peserta didik) untuk melakukan suatu tindakan. Belajar mealui model ini diperoleh melalui pemodelan atau orang yang ditokohkan, atau orang yang diidolakan.
Strategi kognitif adalah kemampuan yang mengontrol manajemen belajar si pembelajar mengingat dan berpikir. Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah ril dilapangan. Melalui pendidikan formal diharapkan pembelajar menjadi “self learner” dan “independent tinker”.

c) Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget (Cognitive Development Theory)
Menurut Piaget pengetahuan (knowledge) adalah interksi yangterus menerus antara individu dengan lingkungan.
Fokus perkembangan kognitif Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pembelajar mulai anak-anak sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif Piaget, duturunkan dari analisa perkembangan biologi organisme tertentu. Menurut Piaget, intelegen (IQ=kecerdasan) adalah seperti system kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.
Menurut Piaget ada tiga perbedaan cara berfikir yang merupakan prasyarat perkekmbangan operasi formal, yaitu; gerakan bayi, semilogika, praoprasional pikiran anak-anak, dan operasi nyata anak-anak dewas.
Ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif yaitu :
1) lingkungan fisik
2) kematangan
3) pengaruh sosial
4) proses pengendalian diri (equilibration)
(Piaget, 1977)

Tahap perkembangan kognitif :
1) Periode Sensori motor (sejak lahir – 1,5 – 2 tahun)
2) Periode Pra Operasional (2-3 tahun sampai 7-8 tahun)
3) Periode operasi yang nyata (7-8 tahun sampai 12-14 tahun)
4) Periode operasi formal
Kunci dari keberhasilan pembelajaran adalah instruktur/guru/dosen/guru harus memfasilitasi agar pembelajar dapat mengembangkan berpikir logis.

d) Teori Berpikir Sosial (social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Harapan dan nilai mempengaruhi tingkah laku
Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
P
B
E

Tingkah laku dihadirkan oleh model
Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model)
Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar)
Pemrosesan kode-kode simbolik
Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976).

Skema
Proses Kognitif Pembelajar
Pembelajar mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku
Performance/unjuk kerja
Motivasi pembelajar mengolah tingkah laku

Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting.
Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Lebih lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.
Menurut Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar, mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar.
Berikut Bandura mengajukan usulan untuk mengembangkan strategi proses pembelajaran yaitu sebagi berikut :

No
Strategi Proses
1
Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model yang terdiri :
a. Apakah karekter dari tingkah laku yang akan dijadikan model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?
b. Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
c. Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2
Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model.
a. Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
b. Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting?
c. Apakah model harus hidup atau simbol?
Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
d. Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?

3
Pengembangan sekuen instruksional
a. Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari :how to do this” dan bukannya “not this”.
Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan
4
Implementasi pengajaran untuk menunut proses kognitif dan motor reproduksi.
a. motor skill
1) hadirkan model
2) beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3) beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b. proses kognitif
1) Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh
2) Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3) Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
4) Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.

Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses kognitif belajar.
2. komponen-komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar.
3. hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel).
4. dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu ditumbuhkan “sense of efficacy” dan self regulatory” pembelajar.
5. dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu.

Ahli lain yaitu Bloom dkk, menjelaskan domain tujuan pendidikan ada tiga ranah yaitu : 1) kognitif, yang berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan perkembangan kemampuan dan skill intelektual, 2) afektif yang menjelaskan tentang perubahan dalam minat, perilaku (attitudes), nilai-nilai dan perkembangan dalam apresiasi dan penyesuaian , dan 3) psikomotor.

2. Teori Belajar Orang dewasa
Gagne membagi teori belajar dalam 3 famili :
a. conditioning
b. modelling
c. kognitif

Kingsley dan Garry membagi teori belajar dalam 2 bagian yaitu ;
a. teori stimulus-respon
b. teori medan
Taba membagi teori belajar menjadi 2 famili :
a. teori asosiasi atau behaviorisme
b. teori organismik, gestalt dan teori medan

Di dalam pembahasan akan difokuskan pada teori belajar orang dewasa. Ada aliran inkuiri yang merupakan landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa yaitu : “scientific stream” dan “artistic atau intuitive/reflective stream”. Aliran “scientific stream” adalah menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen . Teori ini diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike dengan pubilkasinya “ Adult Learning”, pada tahun 1928.
Pada aliran artistic, teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar. Aliran ini diperkenalkan oleh Edward C. Lindeman dalam penerbitannya “ The Meaning of Adult Education” pada tahun 1926 yang sangat dipengaruhi oleh filsafat pendidikan John Dewey.
Menurutnya sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik. Dari hasil penelitian, Linderman mengidentifikasi beberapa asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan fondasi teori belajar orang dewasa yaitu sebagai berikut :
1) pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan
2) orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter.
3) Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning).
4) Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur.
5) Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar.

Carl R Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran yaitu “ Student-Centered Learning” yang intinya yaitu :
1) kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya.
2) Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya
3) Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan
4) Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir

Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan adalah :
1) meraka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa
2) meraka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa

Andragogi mulai digunakan di Netherlands oleh professor T.T Ten have pada tahun 1954 dan pada tahun 1959 ia menerbitkan garis-garis besar “Science of Andragogy”
Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (The need to know), konsep diri pembelajar ( the learner’s concept),peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience), kesiapan belajar ( readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.
Didalam pembelajaran orang dewasa tidak sepenuhnya harus menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awal-awal pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan pengembangan.

This entry was posted on Saturday, September 22nd, 2007 at 4:29 am and is filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

15 Responses to “Teori Belajar”

pudjo S says:
December 18th, 2007 at 10:47 am

Penulisan karya ilmiah bagi guru menjadi kebutuhan. Terutama Class Action Research untuk pengembangan profesi mereka. Sebagian besar dari mereka kurang memiliki ketrampilan dan motivasi mengakses informasi dari internet. alhasil, kualitas guru ya begitu-begitu saja ! nuwun sewu lho..

nanang says:
February 4th, 2008 at 11:50 am

moohon bantuan untuk sumber literatur dari yang Saudara Aderuslina sampoaikan tentang Teori Belajar

Andi Riswandi says:
February 7th, 2008 at 10:18 pm

thanks ya….

rifcah safitri says:
February 27th, 2008 at 11:28 am

saran dan keritik

afi says:
March 3rd, 2008 at 9:30 am

thank you for making this site. it’s help me to find my theories back. after long time haven’t read, think or talkabout the basic principle of learning.
this isnica site. we need more site. need more review

Popular Opinion says:
April 28th, 2008 at 8:19 pm

Application for University of Malaya Fellowship Scheme Session 2008/2009

The University of Malaya (UM) invites all Malaysians and non-Malaysians interested in pursuing postgraduate studies in the University of Malaya to apply for the University of Malaya Fellowship Scheme.

Eligibility to apply:

1. Applicants who are registered candidates of the University of Malaya (research mode or mixed mode with research component not less than 70%) or PhD programmes; or
2. Applicants who have been offered admission to the postgraduate programme mentioned in paragraph 1. above; or
3. Applicants who have submitted an application for a postgraduate programme Masters (research mode or mixed mode with research component not less than 70%) or PhD in the University of Malaya or have already had discussions with the Director/Dean/Head of Department/Supervisor at the Academy/Faculty/Institute/Centre concerning the postgraduate programme to be applied for.

Applicants who are working (except as Research Assistants in the University of Malaya) or are receiving any type of financial assistance are not eligible to apply for the scheme.

Value of Award

Total value of the fellowship scheme is up to a maximum of RM100,000 inclusive of monthly stipends, registration fees, tuition fees, research fees, examination fees and service fees.
The monthly stipend to be given is as follows:

RM1,500 per month for Masters candidate
RM1,800 per month for PhD candidate

Application forms can be obtained from the Institute of Postgraduate Studies, University of Malaya, 50603 Kuala Lumpur or downloaded from the IPS website at http://www.ips.um.edu.my/

The completed application form must be submitted to the following address not later than 16 May 2008.

Student Affairs Section,
Institute of Postgraduate Studies,
University of Malaya,
50603 Kuala Lumpur

Incomplete application form or application form received after the above date will not be considered.
Applicants who do not receive any reply after six months from the closing date should condider their applications unsuccessful

Sumber dari http://malayahistory.blogspot.com/

Prof. Dr. Sudarwan Danim lahir di Bengkulu, 20 Pebruari 1959. Dilihat dari karya-karya akademiknya, peraih predikat Cum Laude ketika promosi doktor ini adalah seorang yang jeneralis, memiliki multiminat keahlian. Bidang keahlian utamanya adalah Manajemen Ketenagaan dan Perencanaan Pendidikan.
Tugas dan jabatan yang pernah diembannya antara tahun 1982 2004 adalah: Guru SMP Muslimin, Bandung; Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu; Sekretaris Balai Penelitian Universitas Bengkulu, Pembantu Dekan Bidang Akademik Universitas Bengkulu, Kepala Sekretariat Panitia Inti Ujian Negara Kowil II, Wilayah Bengkulu; Konsultan Peneliti untuk Risbinakes Wilayah Bengkulu; Tim Sustainability PGSM, Depdiknas; Tim Evaluasi Penataran Guru pada BPG Bengkulu; Sekbid Bidang Pendidikan Tinggi PGRI Provinsi Bengkulu, TIM Reengineering SMK Dikmenjur, Depdiknas dan Kanwil Depdikbud Provinsi Bengkulu; Anggota BPH Universitas Muhammadiyah Bengkulu; Contact Person Reposisi SMK Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Ditjen Dikdasmen, untuk Wilayah Bengkulu; Contact Person dan Ketua Tim Evaluasi dan Pengembangan SLTP Terbuka, Proyek SLTP, Ditjen Dikdasmen, untuk Wilayah Bengkulu; Ketua Tim Sosialisasi dan Desain MPMBS di Bengkulu Selatan; Anggota Tim Evaluasi Studi Dampak P4K Terhadap PNK, Kerjasama BPS dengan Deptan; Konsultan LPMP Bengkulu; Anggota Tim Dapur RUU Guru dan Dosen; dan Anggota KAN-PBPTA Depnakertrans, Jakarta.
Sudarwan Danim mengajar di Universitas Bengkulu. Dia pernah menjadi Konsultan Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003-2005); Koordinator Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional (2003 – sekarang); Konsultan Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK Depdiknas (2005 – sekarang); Koordinator/Penilai LKN/LKT PTK-PNF Tingkat Nasional (2006 – sekarang); Tim Akademisi/Asistensi PTK-PNF Ditjen PMPTK, Depdiknas (2006 – sekarang; dan Tim Ahli PLM-PBA LPPM Universitas Gadjah Mada, tahun 2009.
Antara tahun 1998 sampai dengan sekarang telah menulis 52 buah buku, 39 buah di antaranya adalah terbitan nasional, yaitu: (1) Kepemimpinan dan Komunikasi Pendidikan; (2) Metodologi Penelitian Administrasi Pendidikan; (3) Administrasi dan Organisasi Pendidikan; (4) Transformasi Sumber Daya Manusia; (5) Media Komunikasi Pendidikan; (6) Landasan Kependidikan; (7) Profesi Kependidikan; (8) Profesi Keguruan; (9) Pengantar Kependidikan; (10) Pengelolaan Tenaga Kependidikan; (11) Manajemen Kelas; (12) Strategi Belajar Mengajar; (13 Restrukturisasi Kelembagaan dan Kinerja Tenaga Pendidikan; (14) Metode Penelitian Untuk Ilmu-Ilmu Perilaku; (15) Menjadi Peneliti Kualitatif; (16) Penelitian Kebijakan; (17) Ekonomi Sumber Daya Manusia; (18) Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik; (19) Metode Penelitian Keperawatan; (20) Inovasi dan Profesionalisme Tenaga Kependidikan; (21) Metode Penelitian Kebidanan; (22) Menjadi Komunitas Pembelajar: Kepemimpinan Transformasional Organisasi Pembelajaran; (23) Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok; (24) Bunga Rampai Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (Buku 1 dan II), Penyunting Ahli; (25) Status Guru, Penyunting; (26) Teacher in Indonesia; (27) Teacher in Indonesia, Editor; (28) Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan; (29) Profil Guru Berprestasi Indonesia, Editor; (30) Bunga Rampai Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (Buku 1 dan II), Penyunting Ahli; (31) Bunga Rampai Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (Buku 1 dan II), Penyunting Ahli; (32) Kinerja Staf dan Organisasi; (33) Bunga Rampai Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (Buku 1 dan II), Penyunting Ahli; (34) Bunga Rampai Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (Buku 1 dan II), Penyunting Ahli; (35) Devolusi dan Otonomi Manajemen Sekolah; (36) Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan; (37) Menjadi Guru Profesional: Puncak Peradaban Guru; (38) Sifat-sifat Suami yang Tidak Disukai Isterinya; (39) Kesalahan Merawat Bayi dan Cara Mengatasinya; (40) Merawat Bayi dengan Benar; (41) Kita Perlu Menjadi Orang yang Cerdas; (42) Saya Mau Menjadi Orang yang Sukses; (43) Aku Terampil Membina Rumah Tangga; (44) Sifat Isteri yang Tidak Disukai Suami; (45) Tidak Pernah Terlambat Untuk Belajar; (46) Anak Perlu Didikan Baik dari Keluarga; (47) Memelihara Kesehatan Diri Sendiri dan Keluarga; (48) Asuhlah Anak Kita Secara Benar; (49) Belajar Itu Penting dan Tidak Ada Kata Terlambat; (50) Pendidikan atau Sekolah Itu Penting; (51) Etika atau Sopan Santun ketika di Pasar; dan (52) Cara Hidup Orang Sukses.
Disamping itu, sejak mahasiswa sampai sekarang, Sudarwan Danim telah menulis lebih dari 50 artikel di jurnal/majalah, 800-an opini di media massa, 200-an makalah dan bahan presentasi seminar, dan puluhan karya penelitian.
Selama karir profesionalnya, Sudarwan Danim telah mengunjungi beberapa negara antara lain Thailand, Singapura, Malaysia, Cina, India, Hongkong, Abu Dhabi, Jerman, Belanda, Belgia, Taiwan,Jepang, Korea Selatan,Filipina, dan Saudi Arabia. Fokus utama kunjungan adalah melakukan kajian bidang Manajemen, Perencanaan, dan Ketenagaan Pendidikan, kecuali ke Saudi Arabia untuk keperluan napak tilas.
Diklat/kursus yang pernah diikuti antara lain: Metodologi Penelitian, Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Sanitasi dan Kelestarian Lingkungan, Human Capacity Building I, Human Capacity Building II, dan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.
Pejuang sejati pembangunan pendidikan ini terlibat aktif dalam rumusan konsepsi Pencanangan Guru Sebagai Profesi; Perumusan Pembentukan Ditjen PMPTK, Depdiknas; Perumusan UU tentang Guru dan Dosen; Perumusan PP tentang Guru; Perumusan PP tentang Dosen; Perumusan Pengembangan Profesional Guru Berkelanjutan; Perumusan Konsep Dasar Sertifikasi; Perumusan RPL untuk Guru; Tim Impassing bagi Guru Bukan PNS; Perumusan KKG/MGMP; Periumusan CPD/RPL untuk Guru; dan

Teori Pembelajaran

Teori , Strategi dan Perkaedahan Dalam Pendidikan Komputer.

3.0     Teori  Dan Strategi Pengajaran Dan Pembelajaran
Pembelajaran ialah proses pemerolehan maklumat dan pengetahuan,penguasaan kemahiran dan tabiat serta pembentukan sikap dan kepercayaan . Proses pembelajaran berlaku sepanjang hayat seseorang manusia .  Proses pembelajaran berlaku di mana-mana tempat dan pada sebarang masa. Dalam konteks pendidikan, guru biasanya berusaha sedaya upaya mengajar  supaya pelajar dapat belajar dan menguasai isi pelajaran bagi mencapai sesuatu objektif yang ditentukan.  Pembelajaran akan membawa kepada perubahan pada seseorang . Walaubagaimanapun perubahan yang disebabkan oleh kematangan seperti berjalan dan makan ataupun penyakit dan kelaparan tidaklah dianggap sebagai pembelajaran. Kamus Dewan mentakrifkan pembelajaran sebagai proses belajar  untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan menjalani latihan.  Menurut pandangan  ahli kognitif, pembelajaran boleh ditakrifkan sebagai satu proses dalaman yang menghasilkan perubahan tingkahlaku yang agak kekal.  Manakala aliran behavioris pula  berpendapat bahawa pembelajaran ialah perubahan dalam tingkahlaku ,iaitu  cara seseorang bertindak dalam suatu situasi. Dalam psikologi humanis pembelajaran dianggap proses yang dapat membantu seseorang mencapai sempurna kendiri dan nilai individu. Teori-Teori pembelajaran mempunyai beberapa kepentingan kepada para guru .
Menurut  Arif Sukardi (1987),  terdapat beberapa sebab teori-teori pembelajaran ini perlu dikuasai oleh guru, antaranya ialah seperti berikut:
a)       teori pembelajaran membantu guru memahami proses pembelajaran yang berlaku di dalam diri pelajar itu sendiri.
b)       guru dapat memahami keadaan dan faktor yang mempengaruhi, mempercepatkan atau melambatkan proses pembelajaran  seseorang.
c)       guru dapat membuat ramalan yang tepat tentang hasil yang diharapkan dari proses pengajaran dan pembelajaran.

// skip to main | skip to sidebar

http://www.teknologi-pembelajaran.co.cc

Kamis, 2009 September 17

Teori Pembelajaran

Suatu profesi harus mempunyai landasan pengetahuan yang menunjang praktek. Tiap kawasan Teknologi Pembelajaran mengandung kerangka pengetahuan yang didasarkan pada hasil pengetahuan yang didasarkan pada hasil penelitian dan pengalaman. Hubungan antara teori dan praktek ini menjadi semakin mantap dengan matangnya bidang. Teori terdiri dari konsep bangunan )konstruk), prinsip, dan proposisi yang memberi sumbangan terhadap khasanah pengetahuan. Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan. Praktek juga memberi kontribusi kepada pengetahuan melalui informasi yang didapat dari pengalaman.

Dalam Teknologi Pembelajaran, baik teori maupun praktek banyak menggunakan model. Model prosedural, yang menguraikan cara pelaksanaan tugas, membantu menghubungkan teori dan praktek. Teori juga dapat menghasilkan model untuk memvisualisasikan hubungan; model ini disebut model konseptual.

Pengertian teori menurut Snelbecker (1974, h. 31-32) mengemukakan sedikitnya ada empat macam definisi yang dapat dibedakan mulai dari yang sangat umum sampai pada yang sangat terbatas. Yang sangat umum dirumuskan sebagai segala aspek ilmu yang tidak semata-mata bersifat empirik, dan yang sangat khusus adalah ringkasan pernyataan yang melukiskan dan menata sejumlah pengamatan empirik. Rumusan terakhir inilah yang dipakai sebagai pegangan dalam tulisan ini. Namun perlu ditambah catatan bahwa teori yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah teori-teori yang memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi pendidikan atau teori-teori yang berkaitan dengan komponen-komponen dalamkawasan teknologi pendidikan. Jadi bukan teori yang diciptakan dalam teknologi pendidikan sendiri.

Sejumlah asumsi dijadikan dasar untuk menentukan gejala yang diamati dan atau teori yang dirumuskan. Asumsi-asumsi itu adalah:

Ilmu dan pengetahuan berkembang dengan pesat dengan implikasi bagi kebanyakan orang untuk mengikuti perkembangan itu.

Pertambahan penduduk akan senantiasa terjadi meskipun dengan derajat perbandingan yang kian mengecil. Perkembangan penduduk ini membawa implikasi makin banyaknya mereka yang perlu memperoleh pendidikan.

Terjadinya perubaha-perubahan mendasar dan bersifat menetap di bidang sosial, politik, ekonomi, industri, atau secara luas kebudayaan, yang menghendaki re-edukasi atau pendidikan terus-menerus bagi semua orang.

Penyebaran teknologi ke dalam kehidupan masyarakat yang makin meluas. Masyarakat mengandung budaya dan teknologi, yang memengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang pendidikan.

Makin terbatasnya sumber-sumber tradisional sehingga harus diciptakan sumber-sumber baru dan sementara itu memanfaatkan sumber yang makin terbatas itu secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. Termasuk dalam sumber tradisional ini adalah sumber insani untuk keperluan pendidikan.

Mungkin di antara asumsi yang dinyatakan di atas ada yang bahkan merupakan postulat yang kebenarannya tak terbantah dan tak perlu dipersoalkan lagi. Namun justru untuk mengundang tanggapan dan memperluas kesepakatan, maka butir-butir pernyataan di atas dikemukakan sebagai asumsi, sehingga seseorang daapt tidak setuju sebelum melakukan penalaran sendiri.

Disadur dari: Barbara Seels dan Rita C. Richey (diterjemahkan oleh Dewi S. Prawiradilaga, Raphael Rahardjo, dan Yusufhadi Miarso), 1994, Teknologi Pembelajaran, (Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta, Jakarta); Yusufhadi Miarso, 2005, Menyebar Benih Teknologi Pendidikan, (Prenada Media, Jakarta)

Konsep Teknologi Pendidikan

Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses tersebut menggunakan dan atau menghasilkan suatu produk tertentu. Produk yang digunakan dan atau dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari suatu sistem. Jadi dalam pengertian umum tentang teknologi, alat, atau sarana baru yang khusus diperlukan tidak menjadi syarat yang mutlak harus ada, karena alat atau sarana itu telah ada sebelumnya.

Dalam bidang pendidikan atau pembelajara, teknologi juga harus memenuhi ketiga syarat tersebut: proses, produk, dan sistem. Kecuali membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin keilmuan tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara falsafi, dasar keilmuan itu meliputi ontologi, atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistemologi, yaitu usaha yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai serta keindahan atau estetika.

Objek formal teknologi pendidikan adalah belajar pada manusia baik pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar itu ada di mana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan.

Adapun gejala yang perlumendapat perhatian, atau yang merupakan landasan ontologi dari objek tersebut adalah:

Adanya sejumlah besar orang yang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.

Adanya berbagai sumber baik yang telah tersebia maupun yang dapat direkayasa, tetapi belum dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.

Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat beljaar setiap orang dan organisasi.

Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras.

Usaha khusus yang terarah dan terencana bukan sekedar menambah apa yang kurang, menambal apa yang berlubang, dan menjahit apa yang sobek. Menurut Banathy, bukan hanya “doing more of the same“, ataupun “doing it better of the same“. melainkan “doing it difeerently” untuk menjamin hasil yang diharapkan. Pendekatan yang berbeda itu adalah pendekatan yang memenuhi empat persyaratan, yaitu:

Pendekatan isometrik, yaitu yang menggabungkan hal-hal yang sesuai dari berbagai kajian/bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa teknik, dan lain sebagainya) ke dalam suatu kebulatan tersendiri;

Pendekatan sistematik, yaitu dengan cara yang berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan;

Pendekatan sinergestik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri; dan

Sistemik, yaitu pengkajian secara menyeluruh (komprehensif).

Usaha khusus dengan pendekatan inilah yang merupakan asas epistemologi teknologi pendidikan.

Semua bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yangada. Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai, namun penggunaannyaakan sarat dengan aturan nilai dan estetika.
Dalam perkembangan terakhir, istilah teknologi pendidikan dipersempit menjadi teknologi pembelajaran, dengan pertimbangan bahwa istilah terakhir itu kecuali lebih dapat diterima oleh kalangan yang luas, juga dapat lebih berfokus pada objek formal yang menjadi garapannya. Secara konseptual teknologi pendidikan didefinisikan: teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian proses, sumber, dan sistem untuk belajar. Definisi tersebut megandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pembelajaran, yaitu:

Teori dan praktik

Desain, pengemabngan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian

Proses, sumber, dan sistem

Untuk belajar

Disadur dari: Yusufhadi Miarso, 2005, Menyebar Benih Teknologi Pendidikan, (Prenada Media, Jakarta)

Senin, 2009 September 14

Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike (1874 – 1949): Thorndike yang lahir di Wiliamsburg pada tanggal 31 Agustus 1874 dan meninggal di Montrose, New York, pada tanggal 10 Agustus 1949, adalah tokoh lain dari aliran fungsionalisme Kelompok Columbia. Setelah ia menyelesaikan pelajarannya di Harvard, ia bekerja di Teacher’s College of Columbia di bawah pimpinan James Mckeen Cattell. Di sinlah minatnya yangbesar timbul terhadap proses belajar, pendidikan, dan intelegensi. Pada tahun 1898, yaitu pada usia 24 tahun, Thorndike menerbitkan bukunya yang berjudul Animal Intelligence, An Experimental Study of Association Process in Animal. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung, mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi. Suatu stimulus (S), akan menimbulkan suatu respons (R) tertentu. Teori ini disebut sebagai teori S-R.

Dalam teori S-R dikatan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang) belajar dengan cara coba-salah (trial and error). Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan serentetan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu, dan berdasarkan pengalaman itulah, maka pada kali lain kalau ia menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yangharus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing, misalnya, yang dimasukkan dalam kandang yang terkunci, akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, mengeong, dan sebagainya, sampai pada suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Sejak itu, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.

Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-salah ini ada beberapa hukum yang dikemukakan Thorndike:

Hukum Efek (The Law of Effect): Intensitas hubungan antara S dan R meningkat apabila hubungan itu diikuti oleh keadaan yang menyenangkan. Sebaliknya, hubungan itu akan berkuran, kalau diikuti oleh keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, maka setiap tingkah laku yang menghasilkan keputusan tertentu, akan diasosiasikan dengan situasi tersebut. Jadi, apabila situasi tampil lagi, maka tingkah laku akan tampil lagi. Dalam contoh kucing dalam kandang di atas, tingkah laku injak pedal akan diasosiasikan dengan situasi menyenangkan karena terbebas dari kandang. Dengan teorinya ini Thorndike dapat dikatakan sebagai penganut paham asosiasionisme baru. Berbeda dengan asosiasionisme lama yang dianut oleh John Locke dan Mills bapak beranak, maka asosiasionisme baru tidak menghubungkan antara ide dengan ide, melainkan menghubungkan antara stimulus dengan respons atau respons dengan respons.

Hukum Latihan (The Law of Exercise) atau hukum guna-tak guna (The Law od Use and Disuse): Hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yangberulang-ulang. Dengan demikia, ini berarti pula, hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yang berulang-ulang. Dengan demikian, ini berarti pula, hubungan S-R dapat melemah kalau tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Karena kegunaan R terhadap suatu S tertentu dalam hal yang terakhir ini tidak bisa lagi dirasakan atau makin lama makin menghilang pada organsime yang bersangkutan.

Sehubungan dengan teorinya tentang Hukum Efek di atas, Thorndike sampai pada bukunya yang ditulis bersama tokoh Kelompok Columbia lain bernama Woodworth, Thorndike mengemukakan bahwa apa yang telah dipelaajri terdahulu akan mempengaruhi apa yang dipelajari kemudian. Apabila hal yang dipelajari kemudian mempunyai banyak persamaan dengan hal yang dipelajari terdahulu, maka akan terjaid transfer yang positif di mana hal yangbaru itu tidak akan terlalu sulit dipelajari. Misalnya orang yang sudah pernah belajar menunggang kuda, tidak akan terlalu sulit belajar mengemudikan kereta berkuda. Sebaliknya, kalau antara hal yang dipelajari kemudian dan hal yang dipelajari terdahulu terdapat banyak perbedaan, maka akan sulitlah mempelajari hal yang kemudian itu, dan di sini terjadi transfer yang negatif. Misalnya, seorang yang sudah biasa menulis dengan tangan kiri, karena menulis dengan tangan kiri sama sekali lain caranya daripada menulis dengan tangan kanan. Prinsipnya mengenai transfer ini kemudian diamalkannya ke dalam dunia pendidikan dan ditulisnya dalam buku Educational Psychology (1903) dan karena prestasi-prestasinya itulah Thorndike akhirnya diangkat menjadi guru besar di Teacher’s College of Columbia.

Disadur dari: Sarlito W. Sarwono, 2002, Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (PT Bulan Bintang: Jakarta)

Diposkan oleh Fattah Firdaus di 01:19 0 komentar

Posting Lama

Langgan: Entri (Atom)

Selamat Datang

Untuk memahami teknologi secara lugas, penulis akan menceritakan sebuah cerita yang mungkin akan menginspirasi Anda.

Alkisah, dua orang petani yang satu bernama Ali dan yang satu bernama Ahmad adalah penjual air di kampung mereka. Kegiatan menjual air sudah dilakukan Ali dan Ahmad bertahun-tahun. Ini, karena memang kedua orang tua mereka dahulunya juga adalah penjual air. Mereka mengambil air dari atas gunung untuk kemudian ditampung di dalam bak besar masing-masing untuk seterusnya didistribusikan kepada warga yang hendak berniat membeli. Ali berbadan tegap dan Ahmad lebih kurus dari Ali. Dengan gambaran ini, kita bisa tahu, siapa yang lebih unggul untuk berjualan air. Namun, pada kenyataannya setelah tahun kelima mereka berdua berjualan air, Ahmad tidak lagi naik-turun gunung untuk mengambil dan mendistribusikan air. Rupanya selama berjalannya tahun mereka bekerja, Ahmad secara rutin membeli pipa. Pipa itu secara sedikit demi sedikit disambung hingga mencapai ke rumah Ahmad di kaki gunung. Ahmad lalu membangun bak penampungan yang lebih besar dari sebelumnya. Bak penampungan besar itu sudah tersambung pula dengan pipa-pipa menuju ke rumah-rumah warga yang berlangganan air pada Ahmad. Ahmad lalu memasang alat ukur pada masing-masing langganan untuk mengetahui jumlah debit air yang dikirim dan memasang harga yang sesuai. Di tempat lain, Ali masih saja naik turun gunung untuk mendistribusikan dan menjual air kepada langganannya.

Download Jurnal Internasional

Web-based Learning Sound Educational Method or Hype A Review of the Evaluation Literature

Constructivism for Adult Learners in Online Learning Environments

The Relationship Between Teacher Efficacy and Higher Order Instructional Emphasis

The Press For High Order Thinking In New Basics Classrooms

The Learning Value of Computer-based Instruction of Early Reading Skills

The Transformative Capacity of New Learning

The Role of Scaffolding in a Learner

Use of PharmaCALogy Software in a PBL Programme to Teach Nurse Prescribing

Three Facets of Visual and Verbal Learners Cognitive Ability, Cognitive Style, and Learning Preference

Utilisation of the Problem-Based Learning approach facilitated by Information Technology to teach Information Systems

The Relationship Between Learning Style, Academic Major, and Academic Performance of College Students

Teaching Thinking Skills

The Influence of Learning Style Preferences on Student Success in Online versus Face-to-Face Environments

Qualitative Analysis on StageMaking the Research Process More Public

Results of Pilot Study to Evaluate the Community for Learning (CFL) Program

Socializing The Knowledge Transfer Problem

The Case for Social Agency in Computer-Based Teaching Do Students More Deeply When They Interact With Animated Pedagogical Agents

Teaching Pronounciation of English Using Computer Assisted Learning Software An Action Research Study in An Institute of Technology in Taiwan (1)

Problem-Based Learning in Public Health Instruction A Pilot Study of an Online Simulation as a Problem-Based Learning Approach

Teaching Pronounciation of English Using Computer Assisted Learning Software An Action Research Study in An Institute of Technology in Taiwan (2)

Results of Pilot Study to Evaluate the Community for Learning (CFL) Program

Institutional Selectivity and Good Practices in Undergraduate Education How Strong is the Link

Improving Math Education in Elementary Schools A Short Book for Teachers

Modelling Pedagogy in Australian School Reform

Learning Style and Effectiveness of Online and Face-to-Face Instruction

Implications of Constructivism for Computer-Based Learning

Is Computer-Based Learning Right for Everyone

Overcoming Barriers to Learning in Distance Education The Effects of Personality Type and Course Perceptions on Student Performance

Personality, learning style and work performance

Learning Style, Learning Patterns, and Learning Performance in a WebCT-based MIS Course

//

// skip to main | skip to sidebar

http://www.teknologi-pembelajaran.co.cc

Kamis, 2009 September 17

Teori Pembelajaran

Suatu profesi harus mempunyai landasan pengetahuan yang menunjang praktek. Tiap kawasan Teknologi Pembelajaran mengandung kerangka pengetahuan yang didasarkan pada hasil pengetahuan yang didasarkan pada hasil penelitian dan pengalaman. Hubungan antara teori dan praktek ini menjadi semakin mantap dengan matangnya bidang. Teori terdiri dari konsep bangunan )konstruk), prinsip, dan proposisi yang memberi sumbangan terhadap khasanah pengetahuan. Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan. Praktek juga memberi kontribusi kepada pengetahuan melalui informasi yang didapat dari pengalaman.

Dalam Teknologi Pembelajaran, baik teori maupun praktek banyak menggunakan model. Model prosedural, yang menguraikan cara pelaksanaan tugas, membantu menghubungkan teori dan praktek. Teori juga dapat menghasilkan model untuk memvisualisasikan hubungan; model ini disebut model konseptual.

Pengertian teori menurut Snelbecker (1974, h. 31-32) mengemukakan sedikitnya ada empat macam definisi yang dapat dibedakan mulai dari yang sangat umum sampai pada yang sangat terbatas. Yang sangat umum dirumuskan sebagai segala aspek ilmu yang tidak semata-mata bersifat empirik, dan yang sangat khusus adalah ringkasan pernyataan yang melukiskan dan menata sejumlah pengamatan empirik. Rumusan terakhir inilah yang dipakai sebagai pegangan dalam tulisan ini. Namun perlu ditambah catatan bahwa teori yang dikemukakan dalam tulisan ini adalah teori-teori yang memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi pendidikan atau teori-teori yang berkaitan dengan komponen-komponen dalamkawasan teknologi pendidikan. Jadi bukan teori yang diciptakan dalam teknologi pendidikan sendiri.

Sejumlah asumsi dijadikan dasar untuk menentukan gejala yang diamati dan atau teori yang dirumuskan. Asumsi-asumsi itu adalah:

Ilmu dan pengetahuan berkembang dengan pesat dengan implikasi bagi kebanyakan orang untuk mengikuti perkembangan itu.

Pertambahan penduduk akan senantiasa terjadi meskipun dengan derajat perbandingan yang kian mengecil. Perkembangan penduduk ini membawa implikasi makin banyaknya mereka yang perlu memperoleh pendidikan.

Terjadinya perubaha-perubahan mendasar dan bersifat menetap di bidang sosial, politik, ekonomi, industri, atau secara luas kebudayaan, yang menghendaki re-edukasi atau pendidikan terus-menerus bagi semua orang.

Penyebaran teknologi ke dalam kehidupan masyarakat yang makin meluas. Masyarakat mengandung budaya dan teknologi, yang memengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang pendidikan.

Makin terbatasnya sumber-sumber tradisional sehingga harus diciptakan sumber-sumber baru dan sementara itu memanfaatkan sumber yang makin terbatas itu secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. Termasuk dalam sumber tradisional ini adalah sumber insani untuk keperluan pendidikan.

Mungkin di antara asumsi yang dinyatakan di atas ada yang bahkan merupakan postulat yang kebenarannya tak terbantah dan tak perlu dipersoalkan lagi. Namun justru untuk mengundang tanggapan dan memperluas kesepakatan, maka butir-butir pernyataan di atas dikemukakan sebagai asumsi, sehingga seseorang daapt tidak setuju sebelum melakukan penalaran sendiri.

Disadur dari: Barbara Seels dan Rita C. Richey (diterjemahkan oleh Dewi S. Prawiradilaga, Raphael Rahardjo, dan Yusufhadi Miarso), 1994, Teknologi Pembelajaran, (Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta, Jakarta); Yusufhadi Miarso, 2005, Menyebar Benih Teknologi Pendidikan, (Prenada Media, Jakarta)

Konsep Teknologi Pendidikan

Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses tersebut menggunakan dan atau menghasilkan suatu produk tertentu. Produk yang digunakan dan atau dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari suatu sistem. Jadi dalam pengertian umum tentang teknologi, alat, atau sarana baru yang khusus diperlukan tidak menjadi syarat yang mutlak harus ada, karena alat atau sarana itu telah ada sebelumnya.

Dalam bidang pendidikan atau pembelajara, teknologi juga harus memenuhi ketiga syarat tersebut: proses, produk, dan sistem. Kecuali membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin keilmuan tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara falsafi, dasar keilmuan itu meliputi ontologi, atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistemologi, yaitu usaha yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai serta keindahan atau estetika.

Objek formal teknologi pendidikan adalah belajar pada manusia baik pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar itu ada di mana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan.

Adapun gejala yang perlumendapat perhatian, atau yang merupakan landasan ontologi dari objek tersebut adalah:

Adanya sejumlah besar orang yang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.

Adanya berbagai sumber baik yang telah tersebia maupun yang dapat direkayasa, tetapi belum dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar.

Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat beljaar setiap orang dan organisasi.

Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras.

Usaha khusus yang terarah dan terencana bukan sekedar menambah apa yang kurang, menambal apa yang berlubang, dan menjahit apa yang sobek. Menurut Banathy, bukan hanya “doing more of the same“, ataupun “doing it better of the same“. melainkan “doing it difeerently” untuk menjamin hasil yang diharapkan. Pendekatan yang berbeda itu adalah pendekatan yang memenuhi empat persyaratan, yaitu:

Pendekatan isometrik, yaitu yang menggabungkan hal-hal yang sesuai dari berbagai kajian/bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa teknik, dan lain sebagainya) ke dalam suatu kebulatan tersendiri;

Pendekatan sistematik, yaitu dengan cara yang berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan;

Pendekatan sinergestik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri; dan

Sistemik, yaitu pengkajian secara menyeluruh (komprehensif).

Usaha khusus dengan pendekatan inilah yang merupakan asas epistemologi teknologi pendidikan.

Semua bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yangada. Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai, namun penggunaannyaakan sarat dengan aturan nilai dan estetika.
Dalam perkembangan terakhir, istilah teknologi pendidikan dipersempit menjadi teknologi pembelajaran, dengan pertimbangan bahwa istilah terakhir itu kecuali lebih dapat diterima oleh kalangan yang luas, juga dapat lebih berfokus pada objek formal yang menjadi garapannya. Secara konseptual teknologi pendidikan didefinisikan: teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian proses, sumber, dan sistem untuk belajar. Definisi tersebut megandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pembelajaran, yaitu:

Teori dan praktik

Desain, pengemabngan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian

Proses, sumber, dan sistem

Untuk belajar

Disadur dari: Yusufhadi Miarso, 2005, Menyebar Benih Teknologi Pendidikan, (Prenada Media, Jakarta)

Diposkan oleh Fattah Firdaus di 09:00 0 komentar

Senin, 2009 September 14

Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike (1874 – 1949): Thorndike yang lahir di Wiliamsburg pada tanggal 31 Agustus 1874 dan meninggal di Montrose, New York, pada tanggal 10 Agustus 1949, adalah tokoh lain dari aliran fungsionalisme Kelompok Columbia. Setelah ia menyelesaikan pelajarannya di Harvard, ia bekerja di Teacher’s College of Columbia di bawah pimpinan James Mckeen Cattell. Di sinlah minatnya yangbesar timbul terhadap proses belajar, pendidikan, dan intelegensi. Pada tahun 1898, yaitu pada usia 24 tahun, Thorndike menerbitkan bukunya yang berjudul Animal Intelligence, An Experimental Study of Association Process in Animal. Buku ini yang merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah laku beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, dan burung, mencerminkan prinsip dasar dari proses belajar yang dianut Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak lain sebenarnya adalah asosiasi. Suatu stimulus (S), akan menimbulkan suatu respons (R) tertentu. Teori ini disebut sebagai teori S-R.

Dalam teori S-R dikatan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (hewan, orang) belajar dengan cara coba-salah (trial and error). Kalau organisme berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan mengeluarkan serentetan tingkah laku dari kumpulan tingkah laku yang ada padanya untuk memecahkan masalah itu, dan berdasarkan pengalaman itulah, maka pada kali lain kalau ia menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku mana yangharus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah. Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku tertentu. Seekor kucing, misalnya, yang dimasukkan dalam kandang yang terkunci, akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, mengeong, dan sebagainya, sampai pada suatu saat secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu sehingga kandang itu terbuka. Sejak itu, kucing akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.

Dalam proses belajar yang mengikuti prinsip coba-salah ini ada beberapa hukum yang dikemukakan Thorndike:

Hukum Efek (The Law of Effect): Intensitas hubungan antara S dan R meningkat apabila hubungan itu diikuti oleh keadaan yang menyenangkan. Sebaliknya, hubungan itu akan berkuran, kalau diikuti oleh keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, maka setiap tingkah laku yang menghasilkan keputusan tertentu, akan diasosiasikan dengan situasi tersebut. Jadi, apabila situasi tampil lagi, maka tingkah laku akan tampil lagi. Dalam contoh kucing dalam kandang di atas, tingkah laku injak pedal akan diasosiasikan dengan situasi menyenangkan karena terbebas dari kandang. Dengan teorinya ini Thorndike dapat dikatakan sebagai penganut paham asosiasionisme baru. Berbeda dengan asosiasionisme lama yang dianut oleh John Locke dan Mills bapak beranak, maka asosiasionisme baru tidak menghubungkan antara ide dengan ide, melainkan menghubungkan antara stimulus dengan respons atau respons dengan respons.

Hukum Latihan (The Law of Exercise) atau hukum guna-tak guna (The Law od Use and Disuse): Hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yangberulang-ulang. Dengan demikia, ini berarti pula, hubungan S-R juga dapat ditimbulkan atau didorong melalui latihan yang berulang-ulang. Dengan demikian, ini berarti pula, hubungan S-R dapat melemah kalau tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang. Karena kegunaan R terhadap suatu S tertentu dalam hal yang terakhir ini tidak bisa lagi dirasakan atau makin lama makin menghilang pada organsime yang bersangkutan.

Sehubungan dengan teorinya tentang Hukum Efek di atas, Thorndike sampai pada bukunya yang ditulis bersama tokoh Kelompok Columbia lain bernama Woodworth, Thorndike mengemukakan bahwa apa yang telah dipelaajri terdahulu akan mempengaruhi apa yang dipelajari kemudian. Apabila hal yang dipelajari kemudian mempunyai banyak persamaan dengan hal yang dipelajari terdahulu, maka akan terjaid transfer yang positif di mana hal yangbaru itu tidak akan terlalu sulit dipelajari. Misalnya orang yang sudah pernah belajar menunggang kuda, tidak akan terlalu sulit belajar mengemudikan kereta berkuda. Sebaliknya, kalau antara hal yang dipelajari kemudian dan hal yang dipelajari terdahulu terdapat banyak perbedaan, maka akan sulitlah mempelajari hal yang kemudian itu, dan di sini terjadi transfer yang negatif. Misalnya, seorang yang sudah biasa menulis dengan tangan kiri, karena menulis dengan tangan kiri sama sekali lain caranya daripada menulis dengan tangan kanan. Prinsipnya mengenai transfer ini kemudian diamalkannya ke dalam dunia pendidikan dan ditulisnya dalam buku Educational Psychology (1903) dan karena prestasi-prestasinya itulah Thorndike akhirnya diangkat menjadi guru besar di Teacher’s College of Columbia.

Disadur dari: Sarlito W. Sarwono, 2002, Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (PT Bulan Bintang: Jakarta)

Diposkan oleh Fattah Firdaus di 01:19 0 komentar

Posting Lama

Langgan: Entri (Atom)

Selamat Datang

Untuk memahami teknologi secara lugas, penulis akan menceritakan sebuah cerita yang mungkin akan menginspirasi Anda.

Alkisah, dua orang petani yang satu bernama Ali dan yang satu bernama Ahmad adalah penjual air di kampung mereka. Kegiatan menjual air sudah dilakukan Ali dan Ahmad bertahun-tahun. Ini, karena memang kedua orang tua mereka dahulunya juga adalah penjual air. Mereka mengambil air dari atas gunung untuk kemudian ditampung di dalam bak besar masing-masing untuk seterusnya didistribusikan kepada warga yang hendak berniat membeli. Ali berbadan tegap dan Ahmad lebih kurus dari Ali. Dengan gambaran ini, kita bisa tahu, siapa yang lebih unggul untuk berjualan air. Namun, pada kenyataannya setelah tahun kelima mereka berdua berjualan air, Ahmad tidak lagi naik-turun gunung untuk mengambil dan mendistribusikan air. Rupanya selama berjalannya tahun mereka bekerja, Ahmad secara rutin membeli pipa. Pipa itu secara sedikit demi sedikit disambung hingga mencapai ke rumah Ahmad di kaki gunung. Ahmad lalu membangun bak penampungan yang lebih besar dari sebelumnya. Bak penampungan besar itu sudah tersambung pula dengan pipa-pipa menuju ke rumah-rumah warga yang berlangganan air pada Ahmad. Ahmad lalu memasang alat ukur pada masing-masing langganan untuk mengetahui jumlah debit air yang dikirim dan memasang harga yang sesuai. Di tempat lain, Ali masih saja naik turun gunung untuk mendistribusikan dan menjual air kepada langganannya.

Download Jurnal Internasional

Web-based Learning Sound Educational Method or Hype A Review of the Evaluation Literature

Constructivism for Adult Learners in Online Learning Environments

The Relationship Between Teacher Efficacy and Higher Order Instructional Emphasis

The Press For High Order Thinking In New Basics Classrooms

The Learning Value of Computer-based Instruction of Early Reading Skills

The Transformative Capacity of New Learning

The Role of Scaffolding in a Learner

Use of PharmaCALogy Software in a PBL Programme to Teach Nurse Prescribing

Three Facets of Visual and Verbal Learners Cognitive Ability, Cognitive Style, and Learning Preference

Utilisation of the Problem-Based Learning approach facilitated by Information Technology to teach Information Systems

The Relationship Between Learning Style, Academic Major, and Academic Performance of College Students

Teaching Thinking Skills

The Influence of Learning Style Preferences on Student Success in Online versus Face-to-Face Environments

Qualitative Analysis on StageMaking the Research Process More Public

Results of Pilot Study to Evaluate the Community for Learning (CFL) Program

Socializing The Knowledge Transfer Problem

The Case for Social Agency in Computer-Based Teaching Do Students More Deeply When They Interact With Animated Pedagogical Agents

Teaching Pronounciation of English Using Computer Assisted Learning Software An Action Research Study in An Institute of Technology in Taiwan (1)

Problem-Based Learning in Public Health Instruction A Pilot Study of an Online Simulation as a Problem-Based Learning Approach

Teaching Pronounciation of English Using Computer Assisted Learning Software An Action Research Study in An Institute of Technology in Taiwan (2)

Results of Pilot Study to Evaluate the Community for Learning (CFL) Program

Institutional Selectivity and Good Practices in Undergraduate Education How Strong is the Link

Improving Math Education in Elementary Schools A Short Book for Teachers

Modelling Pedagogy in Australian School Reform

Learning Style and Effectiveness of Online and Face-to-Face Instruction

Implications of Constructivism for Computer-Based Learning

Is Computer-Based Learning Right for Everyone

Overcoming Barriers to Learning in Distance Education The Effects of Personality Type and Course Perceptions on Student Performance

Personality, learning style and work performance

Learning Style, Learning Patterns, and Learning Performance in a WebCT-based MIS Course

Kilas Berita

Loading…

Rehat Visual

Loading…

//

Definisi, Karakter dan Kritik Terhadap Teori Sistem

Juli 10, 2006 oleh Editor

Sistem adalah pengertian yang paling banyak dipakai dalam ilmu politik dan hubungan internasional pada saat ini. Sistem dapat dijelaskan sebagai :

a.      Kerangka teoritis untuk mengumpulkan data mengenai fenomena politik.

b.     Kesatu integrasi saling berhubungan berdasarkan serangkaian hipotesa variabel politik, misalnya sistem internasional yang melibatkan pemerintah dunia.

c.     Serangkaian hubungan diantara variabel politik dalam sebuah sistem internasional misalnya sistem bipolard.     Satu set variabel interaksi

Teori sistem merujuk pada serangkaian pernyataan mengenai hubungan diantara variabel dependen dan independen yang diasumsikan berinteraksi satu sama lain. Artinya perubahan dalam satu atau lebih dari satu variabel bersamaan atau disusul dengan perubahan variabel lain atau kombinasi variabel.

Anatol Rapoport menyatakan, “satu kesatuan yang berfungsi sebagai satu kesatuan karena bagian-bagian yang saling bergantung dan sebuah metode yang bertujuan menemukan bagaimana sistem ini menyebabkan sistem yang lebih luas yang disebut sistem teori umum”.

Sebuah sistem bisa longgar atau ketat, stabil atau tidak stabil. Sistem lebih kecil yang disebut subsistem mungkin hidup dalam sistem yang lebih luas. Sebuah sistem memiliki batas-batas yang membedakan dari lingkungan. Setiap sistem merupakan jaringan komunikasi yang membuka aliran informasi untuk proses penyesuaian diri.

Setiap sistem memiliki inputs dan outputs. Sebuah output satu sistem mungkin menjadi input sistem lain yang biasa juga disebut “feedback”.

KRITIK  TERHADAP TEORI   SISTEM

Meskipun sistem teori umum memiliki pengaruh kuat sehingga menjadi pendekatan dominan dalam studi politik, namun teori ini bukannya tidak ada kritik. Menurut Harold dan Margaret Sprout, sejumlah teoritisi sistem “secara eksplisit mengenalkan konsep organisme mengenai diskusi tentang negara dan sistem internasional”.

Meskipun mereka menyatakan bahwa “sebagian teoritisi sistem akan berhenti untuk mengklaim bahwa struktus dan fungsi sosil dan biologi adalah isomoporik namun benar-benar dalam pemahaman metafisik”, Sprout mempertanyakan “apakah teori itu memperjelas dan memperkaya wawasan dalam operasi organisasi politik dengan menggunakan mereka meskipun secara metaporis dengan struktur pseudobiologis dan fungsi pseudopsikologis”.

Kritik lain muncul dari Stanley Hoffmann yang mengatakan bahwa teori sistem tidak memberikan sebuah kerangka untuk mencapai predikbilitas. Dengan mengkombinasikan ideal ilmu deduktif dengan keinginan mencapai predikbilitas, Hoffmann menyatakan teori sistem menjadi tautological (pengulangan).Kritik Hoffmann adalah teoritisi sistem  menggunakan teknik pribadi yang tidak tepat meminjam dari disiplin lain seperti sosiologi, ekonomi, sibernetik, biologi dan astronomi.

Pada saat yang sama, Hoffmann mengkritik model yang mengandung pola interaksi karen kurang referensi empiris.Menurut Hoffmann, model sistem karena bertujuan generalisasi tingkat tinggi dan penggunaan alat-alat dari disiplin lain, tidak “menyentuh bidang politik”. Penekanan banyak dari model sistem terhadap teori komunikasi menyederhanakan sistem komunikasi manusia dan masyarakat mengabaikan substansi pesan yang dibawa jaringan itu.Karena penekanan terhadap konsep stabilitas, keseimbangan, kesiapan dan pola pemeliharaan, teori sistem dikritik karena adanya bias ideologis untuk mendukung statusquo, meskipun teori ekuilibrium tidak berkonotasi bias terhadap perubahan.

Kritik ini terutama diarahkan khususnya pada fungsionalisme struktural meskipun ada respon dari Merton yang  berargumentasi bahwa pengkritiknya menuduh bias demi mendukung perubahan karena esensi alamiah mekanistik analisa struktural fungsional dan kelemahannya untuk rekayasa sosial.Selain itu studi sistemik dikritik karena tak bisa secara spesisik atau menjelaskan basis epistemologinya. Sejak awal, penuli teori sistem mengarahkan karyanya pada pernyataan substantif tentang kekuasaan dan stabilitas tanpa memperjelas dalam definisi atau variabel yang jelas.

Ringkasan The Nature of Theory in Information Systems

GNU Free Document License – Silakan secara bebas menggandakan dokumen ini

Diringkas oleh : Kelompok 255

Anggota Kelompok : Ikhsan Putra Kurniawan – 1204000432

Mata Kuliah : Kelas Seminar (IKI140991)

Semester : Genap 2007/2008

Ringkasan Jurnal : Sifat dari Teori Sistem Informasi

Judul Asli : “THE NATURE OF THEORY IN INFORMATION

SYSTEMS”

Penulis : Shirley Gregor

School of Accounting and Business Information Systems

College of Business and Economics

The Australian National University

Canberra ACT 0200

AUSTRALIA

Shirley.Gregor@anu.edu.au

Publikasi : MIS Quarterly Vol.30 No.3, pp. 611-642/September2006

Sifat dari Teori Sistem Informasi

I. Kata Kunci

Teori, taksonomi teori, struktur teori, bidang sistem informasi, filosofi ilmu

pengetahuan, filosofi ilmu sosial, teori ahli interpretasi, teori desain, ilmu

pengetahuan desain, penjelasan, prediksi, kausalitas, generalisasi.

II. Tujuan

Paper ini bertujuan untuk menguji sifat dari struktur teori sistem informasi.

Disamping pentingnya sebuah teori, pertanyaan yang menyangkut bentuk

dan struktur dari teori diabaikan jika dibandingkan dengan pertanyaan yang

berkaitan dengan epistemologi. Tulisan menyangkut masalah-masalah

kausalitas, penjelasan, prediksi, dan generalisasi berdasarakan pada

pemahaman atas sebuah teori. Sebuah taksonomi diusulkan untuk

mengklasifikasikan teori sistem informasi yang didasari pada cara dari empat

tujuan utama: analisis, penjelasan, prediksi dan preskripsi. Lima tipe teori

yang saling berhubungan dibedakan sebagai berikut: (1) teori untuk

menganalisa, (2) teori untuk menjelaskan, (3) teori untuk memprediksi, (4)

teori untuk menjelaskan dan memprediksi, (5) teori untuk mendesain dan

melakukan aksi. Kontribusi paper ini adalah menampilkan berbagai

pandangan terhadap teori yang ada dengan menampilkan asumsi dari

berbagai sudut pandang. Sebagai tambahan diusulkan tipe dari teori yang

sedang dikembangkan dapat mempengaruhi pilihan dari pendekatan

epistemologi. Dukungan diberikan untuk melegitimasi dan nilai dari tiap tipe

teori. Bangunan dari tubuh yang terintegrasi dari sebuah teori yang meliputi

semua tipe teori yang ada juga didukung.

III. Pendahuluan

Tujuan dari paper ini adalah untuk menguji struktur sifat dari teori di bidang

Sistem Informasi. Bayak sekali landasan yang menyatakan bahwa metatheoretical

exploration ini diperlukan dan tepat waktu. Walaupun pengakuan

bahwa perlu pengembangan teori, akan tetapi hal ini terbatas pada diskusi di

Ringkasan The Nature of Theory in Information Systems

GNU Free Document License – Silakan secara bebas menggandakan dokumen ini

forum-forum SI dimana teori yang dimaksud dalam SI dan apa bentuk

kontribusi kepada ilmu pengetahuan. Misalkan pertanyaan-pertanyaan yang

bertambah banyak tentang badan dari ilmu pengetahuan atau teori-teori yang

meliputi suatu bidang. Pertanyaan-pertanyaan ini mejadi sejumlah kelaskelas

yang berhubungan:

1. Domain questions. Fenomena apa yang menarik dari sebuah bidang? Apa

masalah utama dari topik yag menarik tadi? Apa batasan dari bidang

tersebut?

2. Structural or ontological questions. Apa itu teori? Bagaimana teori dapat

dipahami pada suatu bidang? Berdasarkan apa teori dirancang? Dalam

bentuk apa kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan? Bagaimana teori

diekspresikan? Apa tipe-tipe klaim atau pernyataan yang dapat dibuat? Apa

tipe pertanyaan yang diajukan?

3. Epistemological questions. Bagaimana teori dibangun? Bagaiaman

pengetahuan ilmiah didapatkan? Bagaiamana teori diuji? Metode penelitian

apa yang dapat digunakan? Apa kriteria yang dapat diaplikasikan untuk

menilai soundness dan rigor dari metode penelitian?

4.Socio-political questions. Bagaimana sebuah bidang pengetahuan dipahami

oleh stakeholder dalam memerangi latar belakang manusia? Dimana dan

oleh siapa teri dikembangkan? Apa sejarah dan sosiologi dari evolusi teori?

Apakah para ilmuwan di bidang tersebut secara umum setuju tentang teori

yang ada atau adakah pendapat lain? Bagaimana ilmu pengetahuan

diaplikasikan? Apakah ilmu pengetahuan deharapkan untuk relevan dan

berguna dalam masalah praktis? Apakah ada masalah sosial, etika, atau

politik yang berasosiasi dengan bidang tersebut?

IV. Tentang Teori

Adalah perlu untuk mengekspresikan ide-ide ini untuk menunjukan posisi

filosofis dimana tulisan ini bersandar. Isu-isu ini termasuk sifat dari teori

secara umum, kebutuhan akan generalisasi, sifat dari kausalitas dan tujuan

utama dari penjelasan dan predisi. Adalah tidak mungkin dalam satu paper

untuk menyingkatkan perluasan dari diskusi masalah topik ini dimana sudah

ratusan tahun masalah ini didiskusikan. Ini hanyalah sketsa dari

pertimbangan perspektif dan untuk menyoroti perbedaan-perbedaan tersebut

dalam pemikiran bahwa hal-hal tersebut saling berhubungan dalam berbagai

teori pendekatan, sama pentingnya dengan hukum kelaziman.

Different Perspectives on Theory

Berbagai pandangan berbeda dari teori bergantung pada beberapa derajat

darfilosofi dan orientasi bidang, ada juga kesamaan. Tulisan ini

menggambarkan tulisan dari filosofi ilmu alam, ilmu sosial, dan ahli

interpretasi tradisi, dan dari ilmu kecerdesan, semuanya relevan terhadap SI.

Secara umum, ahli filosofi dari ilmu pengetahuan menulis tradisi dari fisika

atau ilmu alam melihat teori sebagai penjelasan dan prediksi dan dapat diuji.

Popper(1980) menyatakan sebagai sesuatu yang dapat diuji dan dapat terjadi

di dunia nyata.

Ringkasan The Nature of Theory in Information Systems

GNU Free Document License – Silakan secara bebas menggandakan dokumen ini

Pandangan yang sama terhadap teori dapat ditemukan pada Doty dan

Glick(1994, p.233), dijelaskan bahwa definisi teori minimal memenuhi tiga

kriteria: (1) gagasan harus teridentifikasi, (2) relasi diantara gagasan harus

spesifik, (3) relasinya dapat diuji.

Generalization

Banyak sekali sudut pandang berbeda mengenai teori seperti paper ini.

Masih ada batas, akan tetapi, pada apa yang diklasifikasikan ke kelas sebagai

teori. Abstraksi dan generalisasi mengenai fenomena, interaksi dan causation

diperkirakan merupakan core dari teori. Data bukanlah teori(Sutton dan Staw

1995, p.374)

Teori dapat diklasifikasikan berdasarkan level generalisasinya:

Meta-theory Level tertinggi dari teori,dapat disebut teorinya

teori-teori. Contohnya adalah paper ini sendiri.

Sangat memungkinkan lintas bidang.

Grand-theory Teori ini meliputi generalisasi yang relatif tidak

terikat waktu dan tempat.

Substantive-theory Dikembangkan untuk area yang lebih spesifik.

Formal-theory Dikembangkan untuk area konseptual yang luas.

Midrange-theory Teori yang abstract, lingkup yang terbatas, dan apat

dengan mudah diuji hipotesanya.

Causality

Ide kausalitas, atau relasi diantara sebab dan akibat, adalah pusat dari banyak

konsep dari teori yang ada. Ketika teori digunakan untuk menjelaskan,

secara mendalam dihubungkan dengan ide causation atau yang

menyebabkan. Banyak sekali alasan tentang kausalitas dan untuk beberapa

pengembangan, tipe-tipe teori merefleksikan cara berbeda dalam anggapan

kausalitas dalam fenomena yang penulis observasi. Ada empat pendekatan

menonjol terhadap analisis dari even causation/yang menyebabkan(Kim

1999):

1. Regualrity(or nomological) analysis. “Ada banyak sebab, dimana secara

umum memiliki pola dan secara konstan menghasilkan efek yang khusus;

dan tidak ada instance yang tidak mengikuti pola ini”(Hume 1748, p.206).

Contohnya hukum Boyle dan hukum Ohm di fisika.

2. Counterfactual analysis. Apa yang membuat suatu kejadian merupakan

sebab dari kejadian yang lain adalah fakta bahwa jika kejadian penyebab

tidak terjadi maka kejadian hasil itu tidak akan terjadi.

3. Probabilistic causal analysis. Tipe kausalitas ini dikenali oleh

Hume(1748, p.206). Sederhananya “Untuk mengatakan C adalah penyebab

dari E adalah dengan menyatakan terjadinya C, dalam konteks proses sosial

dan mekanis F, membawa E, atau meningkatkan kemungkinan E” (Little

1999, p.705)

4. Manipulation or teleological causal analysis. Dalam pandangan ini,

penyebab adalah kejadian atau state yang dapat kita produksi dengan

keinginan, atau dengan kata lain memanipulasi untuk membawa kejadian

lain sebagai efek. Contoh: menekan sakelar, membuat lampu manyala.

Ringkasan The Nature of Theory in Information Systems

GNU Free Document License – Silakan secara bebas menggandakan dokumen ini

Explanation and Prediction

Banyak pemahaman tentang teori yang memiliki tujuan dari penjelasan dan

prediksi. Tujuan ini dapat dikenali dari pandangan Popper dan Nagel(1979),

yang melihat tujuan tersendiri dari ilmu pengetahuan perusahaan sebagai

teori yang mengajukan dukungan penjelasan yang sistemik.

V. Mengklasifikasikan Teori di Sistem Informasi

Pertanyaan utama untuk paper ini adalah bagaimana membangun skema

klasifikasi untuk teori-teori sistem informasi. McKelvey(1982) membahas

sejumlah metode yang sudah diajukan untuk membangun taksonomitaksonomi

dan ilustrasi dari argumennya dalam konteks klasifikasi

organisasi.

Ada empat tujuan utama dari teori:

1. Analysis and description. Teori menyediakan deskripsi dari fenomena

kepentingan, menganalisa relasi diantara bangunan-bangunan, derajat

generalisasi pada banguan dan relasi dan batas-batas pada relasi.

2. Explanation. Teori menyediakan penjelasan dari bagaimana, kenapa, dan

kapan sesuatu itu terjadi.

3. Prediction. Teori menyatakan apa yang akan terjadi di kemudian harinya

jika kondisi sebelumnya pasti diadakan.

4. Prescription. Kasus spesial dari prediksi yang ada dimana teori

menyediakan deskripsi dari metode atau struktur atau keduanya dalam

pembangunan artifact.

VI. Lima Tipe Teori Sistem Informasi

Tipe I: Theory for Analyzing. Menganalisa “apa itu” sebagai kebalikan dari

penjelasan kausalitas atau melakukan generalisasi yang prediktif. Teori ini

adalah teori paling dasar dari teori.

Tipe II: Theory for Explaining. Menjelaskan bagaimana dan kenapa suatu

fenomena terjadi

Tipe III: Theory for Predicting. Bertujuan memprediksi apa yang akan

terjadi bukan kenapa itu terjadi; sebagian dari sistem masih merupakan

“kotak hitam”.

Tipe IV: Theory for Explaining and Predicting (EP Theory). Tipe ini

mengatakan apa itu, bagaimana, kenapa, dimana dan apa yang akan terjadi.

Tipe V: Theory for Design and Action. Tipe teori ini menceritakan

bagaimana melakukan sesuatu.

VII. Aplikasi dari Taksonomi

Taksonomi digunakan untuk mengklasifikasikan 50 artikel penelitian ke

dalam dua jurnal terdepan untuk mendemonstrasikan aplikasinya. Isu dari

MIS Quarterly dan Information Systems Research dari maret 2003 hingga

Juni 2004 digunakan sebagai sumber artikel.

Ringkasan The Nature of Theory in Information Systems

GNU Free Document License – Silakan secara bebas menggandakan dokumen ini

VIII. Pertanyaan dan Diskusi

Paper ini telah menceritakan banyak ide tentang teori IS yang diajukan ke

dalam taksonomi untuk mengklasifikasikan teori-teori yang kita

kembangkan. Apakah beberapa tipe teori merupakan milik paradigma riset

tertentu? Jawabannya adalah “tidak”. Apakah salah satu atau beberapa teori

lebih baik dari yang lain? Jawabannya juga tidak. Haruskah kata teori

digunakan untuk kelima kelas teori? Tiap kelas, ada lawannya. Apakah ada

cara yang lebih baik untuk mengklasifikasikan teori SI? Mungkin saja.

Haruskah satu tipe teori mendahului yang lain? Bisa saja. Apakah kelima

tipe teori itu unik untuk SI? Bidang lain ekonomi, manajemen, teknik, bisa

saja memiliki tipe yang sama.

IX. Kesimpulan

Tulisan ini bermula dengan pengujian dari masalah dasar dai konseptualisasi

teori: kausalitas, penjelasan, prediksi, dan generalisasi. Menggunakan tujuan

dari teori sebagai dasar klasifikasi, ada lima tipe teori yang membedakan

dalam SI: (1)theory for analyzing, (2)theory for explaining, (3)theory for

predicting, (4)theory for explaining and predictiong(EP), dan (5)theory for

design and action.

Tugas II

Mata Kuliah   : Filsafat Ilmu

Dosen          : Prof. Dr. T. Fatima Djajasudarma, Drs.

Teori-teori dan Konseptualisasi

Maqbul Halim

L2G04026

BKU KOMUNIKASI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG 2005


Tugas II

Mata Kuliah   : Filsafat Ilmu

Dosen          : Prof. Dr. T. Fatima Djajasudarma, Drs.

Materi Tugas:

Buatlah persepsi dari Teori Bidang Ilmu yang menyangkut suatu obyek penelitian. Kritik terhadap 3 – 5 buah teori yang anda ketahui. Dalam hal ini, anda akan menghasilkan persepsi yang kemudian menjadi konsep.

Jenis Komunikasi:

Komunikasi Massa

Komunikasi Organisasi

Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Kelompok

Perspektif Komunikasi Manusia:

Perspektif Mekanistis

Perspektif Psikologis

Perspektif Interaksional

Perspektif Pragmatis


Teori-teori dan Konseptualisasi

(Perspektif Pragmatis)

Perspektif pragmatisme dalam ilmu komunikasi manusia merupakan perspektif yang relatif baru ketimbang perspektif lainnya, yakni: Perspektif Mekanistis, Perspektif Psikologis, dan Perspektif Interaksional. Perspektif pragmatik dalam ilmu komunikasi manusia berpusat pada perilaku komunikator sebagai komponen fundamental komunikasi manusia. Komunikasi manusia dan perilaku manusia sesungguhnya sama (sinonim). Perspektif ini telah mengembangkan teori sistem umum yang telah menjadi dasar pijakan perspektif ini. Teori sistem umum dianggap tidak cukup menjelaskan prinsip-prinsip pragmatik, makan teori sistem lalu menuntut dikembangkannya teori informasi—pendekatan komunikasi yang bersifat kuasi mekanistis tambahan dari teori sistem umum.

Untuk sementra, sebelum memasuki teori informasi, terlebih dahulu akan diuraikan singkat mengenai teori sistem umum.

Teori Sistem Umum

Prinsip-prinsip dasar yang telah dikembangkan dalam teori sistem umum memiliki sifat yang menyeluruh yang mencerminkan beberapa aksiomatis pokok.

Prinsip Ketidakmungkinan Dijumlahkan (Nonsummativity)

Prinsip ini menunjukkan adanya totalitas komponen-kompenen. Sistem dipandang sebagai totalitas. Penekanan arti sistem adalah adanya hubungan antara komponen-komponen yang menunjukkan identitasnya. Bila komponen-komponen itu tidak behubungan (yang hanya dapat dijumlah), berarti bukan sistem.

Struktur, Fungsi dan Evolusi

Struktur: hubungan-hubungan spasial di antara komponen-kompnen

Fungsi: hubungan-hubungan komponen (komponen lebih sebagai peristiwa ketimbang obyek) yang berorientasi waktu.

Evolusi: perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan komponen-komponen yang sifatnya sturktural dan fungsional.

Prinsip Keterbukaan.

Karakteristiknya adalah adanya pertukaran energi atau informasi antara sistem yang terbuka dengan lingkungannya.

Organisasi Hirarki

Susunan peringkat komponen yang hubungannya koordinat dan atau ordinat. Contoh: Alamat, nomor rumah, RT, RW, nama jalan, kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, negara, benua, planet bumi, alam semesta, tatasurya.

Teori Infomasi

Pendekatan matematis dan mekanistis tentang komunikasi menyandang nama teori informasi., yang secara filosofis berasal daru Norbert Wiener dan secara sibernetis dan statis dari teori kounikasi yang matematis dari Shannon dan Weaver (1949). Meskipun filsafat mekanistis teori informasi tidak begitu penting atau bahkan relevan dengan perspektif pragmatis, funsionalisasi informasi merupakan hal yang sentral. Informasilah yang menggerakkan sistem sosial itu dan melestarikannya. Informasilah yang dipertukarkan di antara subsistem, sistem, dan suprasistem, sesuai dengan prinsip keterbukaan.

“Bahan adukan beton” yang mengikat sistem fisik menjadi kesatuan adalah energi; bagi sistem sosial maka informasi merupakan energi. Hubungan-hubungan struktural dan fungsional di antara komponen-komponen menyatakan adanya informasi. Apabila komunikasi terjadi dalam sistem sosial, maka individu terlibat dalam pengolahan informasi. Prasyarat bagi pembahasan komunikasi secara pragmatis adalah adanya pemahaman menyeluruh tentang hakikat informasi itu. Teori informasi memberikan salah satu cara untuk memperoleh pemahaman itu.

Informasi ini dengan segala sifat dan bentuknya memungkinkan manusia berhubungan dengan dunia di luar dirinya. Lebih dari itu, melalui informasi juga memungkinkan terjalinnya hubungan antara berbagai sistem dengan sistem lainnya, atau antara sistem dan subsistem dalam konteks sosial. Beberapa pandangan (persepsi) pokok mengenai teori informasi:

Pilihan dan Ketidakpastian

Informasi menurut teori informasi eksis dalam bentuk jumlah. Manusia dalam teori ini dipandang aktif dalam sistem sosial. Aktif dalam arti bahwa manusia sebagai unsur dalam sistem sosial berperan secara aktif melakukan pilihan-pilihan dari populasi selama interaksi sosial berlangsung. Memilih adalah salah satu karakteristik yang memisahkan manusia sebagai suatu spesies yang unik di antara dunia hewan. Manusia melakukan pemilihan terhadap populasi informasi yang eksis secara kuantitatif itu. Tujuan pilihan ini adalah mengurangi jumlah ketidakpastian. Proses mencari dan menggunakan informasi untuk mengurangi ketidakpastian merupakan karakteristik komunikasi manusia yang alamiah, tidak terelakkan meskipun tidak dijalankan secara sadar.

Redudansi dan Kendala

Teori informasi menentukan bahwa penyesuaian yang lampau suatu sistem mempengaruhi masa kini sehingga prilaku pengolahan-informasi cenderung untuk berulang sepanjang waktu dalam pola uji coba. Apabila urutan perilaku atau peristiwa tertentu terjadi berulangkali, maka urutan itu dapat dikatakan memerlihatkan keteraturan kejadian pada tingkat atau probabilitas tertentu. Apabila tingkat urutan itu mencapai probabilitas yang cukup, kita dapat dapat membedakan urutan itu sebagai suatu “pola” yang dapat dikenal. Teori informasi memandang bahwa makin redudan suatu urutan peristiwa, makin berkurang ketidakpastian yang dikandung peristiwa itu.

Perspektif pragmatik tidak memandang perilaku manusia sebagai produk atau efek tindakan komunikatif, melainkan sama. Pandang inilah juga yang menyebabkan adanya diskrepansi (kesenjangan) antara perpspektif psikologis dan perspektif pragmatisme. Titik pandang yang menimbulkan kesenjangan adalah kesenjangan antara sikap dan perilaku individu dalam komunikasi manusia. Tetapi hal ini tidak ditemukan di dalam perspektif pragmatik karena memang perspektif ini hanya berfokus pada sistem sosial. Fokus perspektif pragmatik tidak terjun ke hirarki terbawah dan melakukan penelitian mikroskops; yakni, fokusnya tidak pada individu sebagai perorangan akan tetapi pada sistem sosialnya—minimal terdiri dari dua orang atau lebih. Dengan memusatkan perhatian pada tingkat sistem sosial, maka sub-sistem yang terkecil adalah individu. Namun demikian bahwa sikap dan perilaku merupakan subsistem individu itu sendiri, tetap saja perspektif pragmatik tidak berfokus ke sana.

Berikut akan kita lihat bagaimana teori sistem umum dan teori informasi bekerja secara konseptual dalam penelitian ilmu komunikasi. Karena perspektif pragmatis memandang komunikasi manusia sebagai sistem yang memerlukan eksistensi sistem sosial yang di dalamnya teradi komunikasi manusia, maka persepsi kita tentang komunikasi betul-betul fokus hanya pada aktivitas komunikasi manusia. Konseptualisasinya adalah komunikasi sebagai aktivitas manusia.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa komunikasi berbeda dengan piranti keras komunikasi seperti alat telekomunikasi atau media massa. Yang disebut terakhir ini hanya instrumen komunikasi manusia dan bukan merupakan bagian integral studi komunikasi manusia. Jadi, aktivitas manusialah yang memiliki peran aktif dalam sistem sosial, bukan alat-alat komunikasi itu. Hal ini berarti bahwa dalam sistem sosial itu, konseptualisasi komunikasi memusatkan perhatian pada pengolahan informasi pada tingkat sistem dan tidak pada subsistem (individu).

Selain konseptualisasi komunikasi manusia secara sistem sosial, koseptualisasi itu juga berlangsung secara perilaku (perilaku yang bukan subsistem individu). Fokusnya adalah organisasi hirarki sistem memainkan peranan. Terdapat tiga tingkatan sistemik dalam hal ini, yakni subsistem, sistem, dan suprasistem.

Yang terakhir dari konseptualisasi ini adalah pola-pola interaksi yang berurutan. Urutan aktivitas komunikasi manusia (antara partisipan) menunjukkan pengelompokan unsur-unsur ke dalam pola yang telah dikenal atau dapat dikenal. Tanpa adanya pola itu, struktur interaksi tidak dapat dikenal.

Sumber:

Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Dedy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya.

//

1

Sistem

Oleh: Syahyuti

Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Jl. Ahmad Yani 70, Bogor

Kata “sistem” banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari,

dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk

banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi

beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah

sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka. (A “system” is a

collection of things which have relationships among them). Pada redaksi bahasa

yang sedikit berbeda, sistem didefinisikan pula sebagai: “a group of interacting,

interrelated, or interdependent elements forming a complex whole” 1. Sistem

adalah suatu gugus dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisasi

untuk mencapai suatu tujuan atau suatu gugus dari tujuan-tujuan2. Dari

banyak pengertian tentang sistem yang berkembang, satu hal yang pasti

adalah tentang aspek “keutuhan” (wholeness).

“Sistem” memiliki objek yang beragam, mulai dari hal fisik misalnya

untuk organisme dan barang elektronik, pada dunia sosial misalnya untuk

menyebut sebuah organisasi, sampai ke dunia ide misalnya “sistem nilai.

Konsep “pemikiran sistem” lahir dari dunia ilmu alam yang digeluti Herbert

Spencer dan penerusnya, serta bidang biologi oleh HJ Henderson dan

pengikutnya. Konsep sistem telah digunakan dalam ilmu ekonomi, antroplogi,

psikologi, ilmu politik, sosiologi, dan terutama dalam teori organisasi.

Sistem terdapat dalam tubuh manusia sebagai unit fungsi fisiologis,

dalam suatu organisme berupa fungsi dan proses vital di dalamnya, dalam

sekumpulan komponen mekanik dan elektrik pada benda elektronik, dalam

suatu jaringan saluran sehingga memungkinkan untuk berkomunkasi, atau

dalam suatu jaringan komputer yang saling terhubung dalam satu kantor

misalnya. Sistem juga dapat bemakna sejumlah ide dan prinsip yang saling

berhubungan yang terorganisasi, sebagai suatu bentuk organisasi sosialekonomi-

politik, atau sebagai sejumlah objek dan fenomena yang terkelompok

bersama.

Dalam makna sistem sebagai suatu organisasi dari sejumlah element

dan bagian yang bekerja sebagai sebuah unit, maka beberapa kata yang dekat

dengan pengertian ini adalah entity, integral, sum, totality,dan whole. Sistem

juga dapat bermakna sebagai sejumlah bagian yang berkomposisi saling

terkoneksi, atau disebut sebagai kompleks (complex). Dan, dalam makna

sebagai susunan dan desain yang sistematis, maka ia dekat dengan kata-kata:

method, order, orderliness, organization, pattern, plan, systematization, dan

systemization. Sedangkan, sebagai pendekatan yang digunakan untuk melihat

sesuatu, makna sistem tergambar dalam kata-kata: fashion, manner, method,

mode, modus operandi, style, dan way.

Sebuah sistem, adalah sebuah komposisi dari sejumlah element yang

saling berinteraski sehingga membentuk sebuah kesatuan yang padu (a unified

whole). Kata “sistem” berasal dari bahsa Latin and Yunani yang bermakna

sebagai “combine, to set up, to place together”. Jadi, sebuah sistem berisi

2

komponen atau elemen, yang saling terkoneksi secara bersama-sama dalam

tujuan untuk memfasilitasi aliran informasi, materi, maupun energi. Setiap

objek mestilah merupakan sebuah sistem.

Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat hal3, yaitu: (1)

Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda

fisik, abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem

tersebut. (2) Berisi atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan

sistem dan objeknya. (3) Memiliki hubungan internal di antara objek-objek di

dalamnya. Dan, (4) Sistem hidup dalam satu lingkungan tertentu.

Ada berbagai tipe sistem, yaitu sistem terbuka (open system) dimana

pihak luar dapat mempengaruhinya, atau sebaliknya sebagai sebuah sistem

tertutup (closed system). Sebuah sistem disebut dinamis apabila komponen

ataupun interaksi di dalamnya berubah dalam dimensi waktu. Kita juga

mengenal antara “sistem fisik” (physical systems) yang komponennya adalah

meteri dan energi, dan “sistem non-fisik” (conceptual systems) yang merupakan

dunia ide. Dalam ilmu komputer dan dunia informasi, “metode” adalah nama

lain untuk menyebut “sistem”. Dalam pembangunan, sebuah organisasi adalah

sistem manusia yang tergolong kepada conceptual systems, dimana

komponennya adalah subsistem, proses, dan struktur. Contohnya, berpikir

secara sistem (system thinking) merupakan aspek kepemimpinan yang penting.

Salah satu jargon yang populer yang bertolak dari kesadaran tentang sistem

adalah: “Thinks globally, acting locally”. Dengan memahami sistem, kita jadi

tahu posisi kita dimana dalam sistem tersebut.

Berpikir secara sistem (systems thinking) telah berkembang jauh, dan

telah menyediakan seperangkat teknik untuk mempelajari sistem secara

holistik, sebagai upaya melengkapi metode reduksionins (reductionistic

methods) yang telah berkembang sebelumnya. Kerangka sistem merupakan

dasar penting untuk mempelajari organisasi. Berpikir secara sistem

mempertimbangkan berbagai teknik untuk memepalajari sistem dalam

berbagai bentuk. Ia lebih banyak menggunakan pola pikir holistik

dibandingkan teknik reduksionis. Disini dipelajari kaitan-kaitan (linkages),

interaksi, dan proses antara elemen-elemen yang membangun sistem secara

keseluruhan. Seorang pemikir sistem, mempertimbangkan bahwa sebuah

sistem adalah dinamis dan kompleks, sebagai hasil interaksi dari unit yang

terstruktur dan seimbang. Informasi mengalir dari elemen-elemen yang

berbeda dalam sistem. Namun ingat juga tentang lingkungan, karena sebuah

sistem berada dalam lingkungannya sendiri, dan informasi maupun materi

masuk dan keluar ke lingkungan tersebut. Batas-batas sistem ditentukan

dengan mengukur frekwensi relatif interaksi, dimana interaksi internal tiap

anggota tentunya lebih tinggi dibandingkan dengan luar (antar sistem).

Konsep sistem telah berkembang menjadi “Teori Sistem” (The systems

theory), yang menggunakan pendekatan interdisiplin untuk mempelajari

sistem.Teori Sistem dikembangkan oleh Ludwig von Bertalanffy, William Ross

Ashby dan lainnya pada dekade 1940-an sampai 1970-an, dengan berbasiskan

prinsip-prinsip ilmu fisika, biologi, dan teknik. Lalu kemudian termasuk ilmu

filsafat, sosiologi, teori organisasi, manajemen, psikoterapi, dan ekonomi. Dua

objek yang menjadi fokus utama Teori Sistem adalah kopleksitas (complexity)

dan kesalinghubungan (interdependence). Teori sistem di dalam sosiologi

didalami oleh Niklas Luhmann 4. Kita pun mengenal “dinamika sistem” (system

dynamics) sebagai bagian dari Teori Sistem yang mempelajari dinamika

3

perilaku dari sistem. Dari ini misalnya kemudian lahirlah Teori Chaos (Chaos

Theory)) dan Dinamika Sosial (social dynamics).

Prinsip dasar teori sistem cukup sederhana, bahwa masyarakat

merupakan suatu keseluruhan yang saling tergantung5, seperti sebuah mobil

kata ahli fisika, atau seperti sebuah organisme dalam bidang biologi.

Kelangsungan sistem ditentukan oleh pertukaran masukan dan keluaran

dengan lingkungannya. Setiap sistem terbagi dalam sejumlah variabel

subsistem, dimana tiap subsistem juga terdiri dari tatanan sub-subsistem yang

lebih kecil.

Teori sistem telah berumur seratus tahun lebih6. Pada teori sosiologi dan

politik, yang menonjol adalah David Easton dan Talcott Parsons. Parsons

melahirkan Teori Sistem yang berkaitan kemudian dengan perspektif

“struktural fungsional”. Dalam pandangan ini, sejumlah kebutuhan harus

dipenuhi kalau suatu masyarakat ingin hidup. Kebutuhan tersebut adalah

untuk penyesuaian, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola-pola.

Maka itu, perlu empat subsistem dalam masyarakat, yaitu ekonomi, politik,

kebudayaan, dan sosialisasi (melalui keluarga dan sistem pendidikan).

Masyarakat berkembang bila terjadi pertukaran yang kompleks di antara

subsistem-subsistem. Subsistem politik menghasilkan sumber-sumber,

kekuasaan otoritas, yang kemudian melahirkan ekonomi berdasarkan uang.

Dengan otoritas yang diperoleh dari negara, ekonomi menciptakan modal, yang

pada gilirannya menjalankan politik.

Sistem secara luas digunakan dalam ilmu manajemen. Analisa sistem

pada konteks manajemen didasarkan atas penentuan informasi yang terperinci

yang dihasilkan setahap demi setahap dari proses, sehingga diketahui

bagaimana sistem bekerja agar memenuhi kebutuhan yang telah ditentukan,

dengan membangun kriteria jalannya sistem agar mencapai optimasi. Dari

proses identifikasi sistem dihasilakan spesifikasi yang terperinci tentang

peubah yang menyangkut rancangan dan proses kontrol. Identifikasi sistem

ditandai dengan adanya determinasi kriteria jalannya sistem yang akan

membantu dalam evaluasi alternatif sistem. Kriteria tersebut meliputi pula

penentuan output yang diharapkan, dan mungkin juga perhitungan rasio biaya

dan manfaat 7.

Satu istilah yang sering digunakan masyarakat umum, yang erat

kaitannya dengan sistem adalah “model”. “Model” adalah rancangan struktur

dalam bentuk kecil (small scale representation of something) yang dapat

diperbanyak dan dikembangkan, merupakan suatu abstraksi, penyederhanaan

suatu sistem, atau tiruan yang sederhana dari suatu sistem yang nyata. Model

seringkali digunakan untuk mempelajari sistem 8.

Dalam konteks pendekatan sistem, dikenal pula “Pendekatan Analitis”.

Meskipun bagi sebagian orang terlihat sebagai “lawan”, namun sesungguhnya

pendekatan analitis (the analytic approach) dan pendekatan sistem (the

systemic approaches) lebih sebagai saling melengkapi (complementary)

daripada berlawanan9. Pendekatan analitis berupaya memecah suatu sistem ke

dalam elemen-elemen dasar dalam upaya mempelajari secara detail dan

memahami tipe dan interaksi yang ada di antara mereka. Dengan memodifikasi

satu variabel, dicoba menduga sifat umum untuk memperkirakan apa yang

akan terjadi pada seluruh sistem dalam satu kondisi yang berbeda. Tabel

berikut membandingkan perbedaan antara “pendekatan analitis” dengan

“pendekatan sistem”.

4

Pendekatan Analitis (Analytic

Approach)

Pendekatan Sistem (Systemic

Approach)

 Terisolasi, berkosentrasi

pada elemen.

 Menyeluruh (unifies) dan

berkosentrasi kepada interkasi

antara elemen.

 Mempelajari sifat interkasi  Mempelajari dampak dari interaksi

 Menekankan pada ketepatan

detail

 Menekankan kepada persepsi

global

 Memodifikasi satu variabel

pada satu titik waktu

tertentu saja

 Memodifikasi sejumlah variabel

secara simultan

 Gejala yang dipelajari

dipercaya bersifat reversible.

 Percaya bahwa gejala bersifat

irreversibility

 Validitas fakta dibuktikan

melalui teori.

 Validitas dicapai melalui

perbandingan antara perilaku ideal

dengan perilaku realitas

 Menggunakan ketepatan dan

detail dari model yang telah

terbukti dalam dunia nyata

(misalnya model-model

econometric)

 Menggunakan model yang tidak

didasarkan kepada pengetahuan,

namun lebih kepada kegunaannya

untuk keputusan dan pelaksanaan

(action). Atau, lebih pragmatis.

 Memiliki pendekatan yang

efisien jika interaksi bersifat

linear and lemah (weak)

 Akan lebih efisien jika interaksi

bersifat nonlinear dan kuat (strong)

 Menyumbang kepada

pemahaman yang single

discipline-oriented

 Menyumbang kepada pemahaman

yang multidisiplin.

 Membantu dalam

menjalankan program

karena memberi pemahaman

tentang detail

 Membantu memahami tentang

objek yang sesungguhnya

 Kuat dalam hal detail,

namun miskin tentang

tujuan (defined goals)

 Kaya tentang aspek tujuan, namun

lemah dalam detail.

Saat ini telah dikembangkan beberapa metode yang populer yang

sesungguhnya diturunkan dari Teori Sistem, misalnya Analisa Jaringan

(network analysis) dan “ECCO analysis”. ECCO adalah singkatan dari “Episodic

Communication Channels in Organization”, yang menganalisis dari sekumpulan

data yang dikumpulkan. Metode ini didesain untuk menganalisa dan

memetakan jaringan komunikasi, mengukur kecepatan alirannya, mempelajari

distrosi pesan yang mngkin terjadi, dan masalah kesia-siaan (redundancy).

*****

5

1 http://www.answers.com/system, 13 Mei 2005.

2 Manetsch dan Park(1979) dikutip dalam Eriyatno. 1999. “Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan

Efektivitas Manajemen”. Jilid Satu. IPB Press, Bogor.

3 “System Theory”. (http://www.tcw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/

Communication%20Processes/System_Theory.doc., 9 mei 2005).

4 Ini dapat dipelajari dalam Niklas Luhmann “Soziale Systeme”. Grundriss einer allgemeinen

Theorie, Frankfurt, Suhrkamp, 1994.

5 Martin, Roderick, dalam buku “Sosiologi Kekuasaan”, hal 2-3.

6 Teori sistem diintroduksikan tahun 1940-an oleh biolog Ludwig von Bertalanffy dengan tajuk

“General Systems Theory”, dan dikembangkan kemudian oleh Ross Ashby yang

mengintroduksikan konsep “Cybernetics”.

7 Eriyatno. 1999. “Ilmu Sistem: Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Jilid Satu. IPB

Press, Bogor. Hal. 26.

8 Francis Heylighen and Cliff Joslyn. “What is Systems Theory?” Prepared for the Cambridge

Dictionary of Philosophy. Copyright Cambridge University Press.

(http://pespmc1.vub.ac.be/SYSTHEOR.html., 9 Mei 2005).

9 “Analytic vs. Systemic Approaches”. Copyright © 1997 Principia Cybernetica – Referencing

this page. (http://pespmc1.vub.ac.be/ANALSYST.html., 9 Mei 2005).



Desember 2009
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Recent Entries


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: